Empat Koreografer di Balik Pagelaran Sabang Merauke “Hikayat Srikandi Nusantara” 2026

Sandhidea Cahyo, Pulung Jati, Dian Bokir, dan Juli Sandra membawa latar tari yang berbeda untuk merangkai gerak dalam “Hikayat Srikandi Nusantara”.

Ketika ratusan penari bergerak serempak di atas panggung, hasil akhirnya mungkin terlihat mengalir begitu saja. Padahal, di balik setiap langkah, arah pandangan, dan perubahan formasi, ada proses panjang yang melibatkan riset, diskusi, percobaan, hingga latihan berulang.

Advertisement

Dalam Pagelaran Sabang Merauke 2026 bertajuk “Hikayat Srikandi Nusantara”, proses tersebut berada di tangan empat koreografer: Sandhidea Cahyo, Pulung Jati, Dian Bokir, dan Juli Sandra. Keempatnya datang dari perjalanan artistik yang berbeda, mulai dari tari tradisi, kontemporer, teater, hingga hip-hop. Perbedaan itu kemudian dirangkai menjadi satu bahasa gerak yang membantu pertunjukan bercerita.

Sandhidea Cahyo bertugas menjaga arah besar koreografi sebagai Lead Choreographer. Pengalamannya dalam tari tradisional dan kontemporer membantunya memastikan seluruh bagian pertunjukan tetap punya benang merah. Pulung Jati membawa kepekaan dari ruang tari kontemporer Yogyakarta, terutama dalam mengembangkan detail gerak menjadi formasi yang dapat dibaca dari tribun besar.

Dian Bokir memperkuat sisi teatrikal lewat pengalamannya di dunia tari dan akting. Ia melihat gerak bukan hanya sebagai bentuk, tetapi juga cara untuk membawa karakter dan emosi. Sementara Juli Sandra menghadirkan pilihan ritme serta aksen dari latar hip-hop dan street dance, tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi dasar pertunjukan.

Lalu, bagaimana koreografi PSM 2026 dibuat? Prosesnya tidak langsung dimulai dengan mengajarkan gerakan kepada ratusan penari. Tim terlebih dahulu membaca alur cerita, memahami karakter setiap tokoh, mendengarkan aransemen musik, dan melihat kebutuhan pada masing-masing adegan. Setelah itu, bagian pertunjukan dibagi kepada para koreografer sesuai pendekatan gerak yang dibutuhkan.

Gerakan awal biasanya diuji dalam kelompok kecil. Dari sini, tim bisa melihat apakah koreografinya sesuai dengan musik, cukup kuat secara visual, serta aman dilakukan dengan kostum dan aksesori. Setelah melewati revisi, materi diperluas kepada kelompok yang lebih besar, disusun menjadi formasi, lalu dipertemukan dengan tata panggung, penyanyi, multimedia visual, dan perpindahan antar adegan.

Fakta menariknya, koreografi berskala besar justru sangat bergantung pada detail kecil. Arah kepala yang berbeda, posisi tangan yang terlambat, atau jarak antarpemain yang berubah sedikit saja dapat mengganggu bentuk besar yang terlihat dari tribun. Namun, gerakan juga tidak boleh terasa terlalu mekanis. Setiap penari tetap perlu memahami alasan di balik geraknya agar formasi yang terbentuk tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga membawa cerita.

Kolaborasi Sandhidea Cahyo, Pulung Jati, Dian Bokir, dan Juli Sandra memperlihatkan bahwa tari Nusantara tidak harus hadir dalam satu bahasa gerak yang seragam. Tradisi, kontemporer, teater, dan hip-hop dapat bertemu selama setiap pilihan memiliki alasan dan tetap menghormati akar budayanya.

Ketika nantinya ratusan penari bergerak sebagai satu kesatuan di Indonesia Arena, penonton mungkin tidak melihat proses diskusi, perubahan formasi, serta latihan panjang di baliknya. Namun, kerja empat koreografer tersebut akan terasa melalui cara setiap tokoh hadir, setiap adegan berpindah, dan “Hikayat Srikandi Nusantara” bercerita lewat tubuh para penarinya.

Advertisement

Related post

×

Hello!

Silakan kirim email ke program@jak101fm.com untuk pertanyaan seputar JAK 101 FM

× Hey JAK FM