Mengapa Membeli Supercar di Indonesia Kurang Worth It?

JAKartans, siapa yang tidak ingin memiliki supercar seperti Ferrari atau Lamborghini? Rasanya, jika kita memiliki uang yang berlimpah, hal pertama yang kita beli tentunya adalah supercar. 

Di Indonesia sendiri, cukup banyak selebriti, pejabat, atau orang-orang kaya lainnya yang memiliki supercar. Nama seperti Raffi Ahmad, Andre Taulany, atau Bambng Soesatyo menjadii sosok selebriti dan politisi yang memiliki supercar. 

Advertisement

Tapi, tahukah JAKartans, jika memiliki supercar di Indonesia terbilang hal yang kurang worth it? Memang, pada akhirnya selagi kita memiliki uang lebih, supercar dapat dijadikan sebagai koleksi pribadi. Akan tetapi, nyatanya memiliki supercar di Indonesia tergolong hal yang kurang worth it/

Kemacetan

Salah satu hal yang dijual supercar adalah kecepatan. Memang, cara terbaik untuk mengetes kecepatan supercar adalah dengan menyewa sirkuit balapan. Namun, pada akhirnya kemacetan menjadi salah satu masalah supercar di Indonesia.

Andre Mulyadi, selaku pendiri bengkel modifikasi di Bandung mengungkapkan salah satu permasalahan supercar di Indonesia adalah overheat akibat macet. Andre bilang supercar tidak bisa diajak macet-macetan terlalu lama, mobil ini disebut punya pendingin namun ada batasannya. Dia juga mengatakan memanaskan mesin V12 itu tidak bisa dalam posisi diam atau idle melainkan harus dikendarai agar radiator mendapat pasokan udara untuk mendinginkan suhu mesin. 

“Karena jika tidak (dikendarai), tidak ada angin masuk. Harus ada angin masuk untuk mendinginkan (mesin) mobilnya. Jadi supaya sistem pendinginan mesin lebih sempurna,” ungkapnya.

BACA JUGA: Radical SR3 XXR: Meramaikan MotoGP 2023 di Pertamina Mandalika International Circuit 

Cuaca

Pada tahun 2020, Mazda RX7 mengalami kejadian tak terduga yaitu terbakar saat sedang menjalani uji coba. Selain itu, ada juga insiden yang melibatkan replika Eleanor, Ford Mustang GT Fastback 67, yang mengalami masalah serupa. Yang terbaru, terdapat kejadian di mana sebuah mobil Porsche terbakar di jalan tol.

Ketika mempertimbangkan insiden-insiden ini, tampaknya mengemudikan mobil high performance di jalan Indonesia memerlukan tingkat keahlian yang lebih tinggi. Ini mencakup pemahaman yang mendalam terhadap fitur-fitur mobil dan pemahaman terhadap kondisi cuaca yang mungkin mempengaruhi kinerja mobil. Sebab, tidak sedikit masalah yang terjadi pada mobil sport disebabkan oleh faktor-faktor eksternal.

Kondisi geografis di Indonesia juga menjadi salah satu penyebab terjadinya masalah eksternal tersebut. Meskipun mobil sport telah diuji di berbagai kondisi dan medan, Indonesia berada di dekat garis khatulistiwa dan memiliki suhu serta kelembaban yang tinggi. Hal ini penting untuk diketahui karena suhu yang lebih tinggi dari biasanya dapat mempengaruhi sistem pendinginan mesin, terutama pada mobil sport yang dibahas dalam artikel ini. Ketika mesin terus-menerus terpapar oleh kondisi cuaca yang ekstrem, ini dapat memaksa mesin bekerja lebih keras, seperti yang dilansir oleh laman Carro.

Pada akhirnya, siapa yang tidak ingin memiliki supercar seperti Ferrari atau Lamborghini? Namun, memiliki supercar di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Kemacetan menjadi masalah utama, karena kecepatan supercar sulit diuji di jalan-jalan yang sering macet. Selain itu, cuaca tropis Indonesia juga bisa berdampak negatif pada kinerja supercar, seperti risiko overheat. Meskipun memiliki supercar bisa menjadi koleksi pribadi yang mengesankan, ada banyak faktor yang membuat kepemilikan supercar di Indonesia kurang worth it.(*/)

(RRY)

 

Advertisement

Related post

×

Hello!

Silakan kirim email ke program@jak101fm.com untuk pertanyaan seputar JAK 101 FM

× Hey JAK FM